News Pantai Barat

Januari 2, 2012

Wariskan Pesan Tsunami

Filed under: Uncategorized — jaka @ 4:21 am

Beragam cara dilakukan warga Aceh korban tsunami agar peristiwa tersebut diingat sepanjang masa. peristiwa yang tujuh tahun terakhir terus dirayakan pemerintah Aceh dengan tujuan agar masyarakat Aceh dan masyarakat dunia tidak melupakan peristiwa dahsyat di ujung tahun 2004 itu.

Sekelumit cara dilakukan masyarakat korban agar tetap mengenang peristiwa yang mengejutkan dunia itu, bencana tersebut telah membuat ratusan ribu orang hilang dan meninggal dan merubuhkan rumah, merusak insfrastruktur jalan dan fisilitas kesehatan serta melumpuhkan wilayah pesisir Aceh.

Dikampung lamteh Kecamatan Meuraxa, pesisir Kota Banda Aceh tujuh tahun silam, tepatnya Minggu, 26 Desember 2004, Abdullah Umar (47) masih bercengkrama bersama rekan-rekan sekampung.

Di bawah rimbun rumpun bambu Kuning sekitar pukul 08.30 Wib pria yang akrab di sapa Bang Bolah itu merasakan gempa, dari situ pula dengan sepeda motornya pria keturunan arab persia itu beranjak kerumahnya usai gempa terjadi, Ia mengajak Istri, 3 anak dan seorang keponakannya dan memacu motornya ke arah Gue Gajah, Keutapang Banda Aceh.

“Awalnya saya mendengar tiga ledakan besar, saya kira bom awak nanggroe (Pasukan GAM) meledak lagi, apa lagi saat itu Aceh Masih konflik,” ungkap Bolah.

Dentuman yang besar itulah yang membuatnya kalang kabut, melewati jalan setapak hingga akhirnya tiba di rumah mertuanya di Gue Gajah, “saya tidak melihat air tsunami, tapi saya melihat pohon kelapa sudah bergulung-gulung, saya makin takut,” ungkap Bang Bolah.

Dalam pelarian itu, Istri Bolah sempat berputus asa, “Kiamat sudah terjadi untuk apa lari,” kata Bolah menirukan Istrinya.

lalu Bolah menanggapi pernyataan istrinya dengan menyebut bila gunung belum beterbangan maka kiamat belum terjadi.

Usai mengantarkan Istri, anak dan keponakannya, beberapa jam kemudian Bolah kembali kekampung Lamteh dan mendapati kampungnya telah rata dengan tanah, Rumpun Bambu tempat ia berkumpul tercerabut hingga ke akarnya.

Bolah tak melihat lagi beranda yang di bangun bersama rekan-rekan dan kerabatnya, dilokasi itu hanya ia temukan banyak mayat penuh luka yang tidak Ia kenali, Dari situ pula Bolah terus mencari keluarga dan kerabatnya namun tidak menemukannya.

Sebelum tsunami Kampung Lamteh penuh persawahan, banyak rumah permanen dan semi permanen, sebuah Mesjid dan kehidupan warga saat itu di selimuti rasa takut karena konflik bersenjata GAM dan TNI/Polri.

Bolah bekerja sebagai pembajak sawah milik warga, Ia juga memiliki beberapa bidang kebun sayur dan juga ditanami tanaman muda untuk kebutuhan rumah tangganya.

Saat kampungnya di goyang gempa dan di humbalang tsunami harapan hidupnya sesaat hilang, terlebih Ia banyak kehilangan kerabat dekat dan tetangga.

Meski rasa pahit hidup di dalam barak pengungsian tidak Ia rasakan, namun untuk kembali kekampung lamteh dirasakan sangat berat, kerena kampung itu penuh dengan kenangan walau akhirnya keputusan keluarga untuk kembali harus dia terima dengan berat hati. “saya akhirnya kembali kesini juga,” ungkap Bang Bolah.

Kenangan tsunami pada Minggu, 26 Desember 2004 pukul 08.30 wib itu terus diingatnya, kepada anak laki-lakinya yang paling tua, Bang Bolah selalu berpesan bila gempa terjadi segeralah bawa keluarganya yang lain dengan motor ke Gue Gajah.

“Kalau saya tidak dirumah, saya selalu berpesan kepada anak agar memakai win ini, saya selalu meninggalkan win (motor) bila saya bekerja di luar,” ungkap Bolah sambil menepuk tangki minyak Sepeda motor miliknya itu.

Bak Pusaka, Motor yang dia tunggangi bersama 5 keluarganya itu selalu dirawat agar selalu siaga bila bencana kembali terjadi. “Pesan saya kepada anak-anak membuat mereka selalu siaga bila terjadi sesuatu,” ungkapnya.

Bolah berharap pesan ke anak-anaknya itulah akan terus diwariskan kepada cucu dan keturunannya.

Kisah pahit bencana tsunami juga dirasakan oleh Muhammad Saleh (47) PNS di Balai Besar Jalan Nasional yang bertugas di Meulaboh, Aceh Barat.

“lebih satu tahun sekeluarga kami menumpang di gubuk rumah kawan di Preumbeu,” Kata Saleh.

Di gubuk ukuran 2×2 meter itu pula Saleh bersama Istri dan empat anak, dan keduanya mertuanya melanjutkan hidup.

Rumah Saleh di Suak Ribe habis total, dan keluarga itu harus lari lintang pukang sejauh 3 kilometer agar selamat dari kejaran luapan air laut.

Sementara Ayah mertuanya harus berjuang di perairan Suak Ribe dan dihempas kedaratan bersama perahunya. “mertua saya sedang di laut saat itu, dia selamat juga,” ungkap Saleh.

Bencana itu awal dari rasa pahit yang hingga kini masih dirasakan keluarga Saleh, saat itu hidup berat sekali bukan karena mereka kehilangan rumah atau baju cuma yang melekat di badan, “bukan itu, tapi saat kita tahu bahwa kita tidak menemukan keluarga kita yang hilang, dan rasa itu masih ada hingga sekarang,” kata Saleh.

Kepada anak-anaknya Saleh selalu menceritakan pelarian keluarga itu dan pahitnya tinggal dalam gubuk kecil lebih 13 bulan lamanya, hingga akhirnya memiliki satu rumah bantuan NGO asing yang membangun kembali rumahnya di Suak Ribe. “Walau mereka merasakannya anak-anak harus saya diingatkan agar mereka siap, Orang tua harus selalu mengulang kaji kejadian itu.” sebutnya.

Dengan terus menceritakan tentang peristiwa tsunami Saleh berharap keluarganya terutama anak-anaknya memahami tentang bencana yang terjadi dan akibat yang ditimbulkannya.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Theme: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.