Oleh : Munawardi Ismail
SUARA ombak terdengar riuh membentur batu besar di pinggir pantai Desa Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Deburannya masih sama seperti tujuh tahun silam. Berbuih dan basah.
Jumat kemarin, matahari belum tepat di kepala saat seorang penziarah shalat persis di samping makam utama. Dia shalat sunnat melepas kaul. Di depannya terbujur makam yang diyakini milik ulama besar Aceh; Syiah Kuala.
Ulama yang bernama asli Syeikh Aminuddin Abdurrauf bin Ali Al Fanshury As Singkily itu berada di bawah cungkup besar, beratap merah bata. Belasan tiang di dalam juga dicat dengan warna sama.
Namun, bangunan cungkup itu lebih dominan warna kuning. Sedang cat sejumlah bangunan lainnya mulai pudar. Pagar kompleks sudah selesai dibuat. Sebagian belum diberi pewarna. Sejumlah pria dewasa masih sibuk mengaduk semen dan batu bata.
Tiga pekerja lainnya masih mengukur lantai berpavin blok yang belum tuntas dikerjakan. Beberapa batang pohon yang sudah ditanam ikut diberi pagar pembatas. Di tengah hembusan angin laut yang terasa asin, kompleks itu tak sepi penziarah.
Suara ombak jelas terdengar meski sudah dibatasi breakwater (batu pemecah ombak). Ombak itu juga yang 2.555 hari silam dihumbalang gelombang raya; tsunami. Semua bangunan menjadi rata.
Ombak raksasa yang menghempas pantai Aceh itu terjadi 84 bulan silam; 26 Desember 2004. Kendati sudah melewati 61.320 jam, kompleks yang diklaim sebagai kawasan wisata spiritual masih ‘terlantar. Padahal tujuh tahun sudah.
Dikelola Yayasan
Ketua Yayasan Syiah Kuala, Machmud Ika menyebutkan, di areal kompleks seluas 2,6 hektare itu terdapat 42 nisan lain, selain makam Syiah Kuala. Nisan-nisan tersebut tak lain makam para sahabat dan murid Syiah Kuala.
Pasca tsunami, makam Syiah Kuala dipugar menjadi lebih indah oleh Pemerintah Pusat dengan membangun cungkup dengan dana sebesar Rp1,4 miliar. Pihak Pemerintah Aceh melalui Dinas Tata Kota dan Pemukiman, juga telah membagun balai dengan dana Rp1,4 miliar.
Menurut ahli waris makam, ketika Azwar Abubakar menjabat Pelaksana tugas Gubernur Aceh , dia pernah menyatakan bahwa Pemda telah menyediakan dana Rp1,5 miliar untuk merehab makam tersebut dan bangunan lainnya.
Begitu pula dengan Departemen Sosial juga sudah menyediakan dana Rp1,4 miliar untuk membangun cungkop (rumah) Makam Syiah Kuala, dan Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias juga menyediakan dana Rp818 juta untuk membuat pagar.
Namun, faktanya tak seindah dan semegah angka-angka yang berjumlah miliaran itu. “Sekarang yang bangun itu Pemko Banda Aceh. Katanya ada dana Rp500 juta. Tapi pembangunannya tak sesuai harapan pihak yayasan,” ujar Mahmud.
Katanya, sebagai ahli waris dia merasa gerah dengan sikap pemerintah, karena tidak memakai masterplan yang sudah dirancang sendiri pihak yayasan. “Semua jadi kacau balau, mereka membuat denah sendiri tanpa diskusi dengan kita,” ujarnya.
Menurut Mahmud, program rehabilitasi kompleks makam sudah keluar dari kepatutan. “Desainnya tak sesuai lagi. Tapi apa boleh buat,” kata Mahmud yang ikut mengucapkan terima kasih atas bantuan pengusaha Malaysia.
Jejak Syiah
Syiah Kuala merupakan salah seorang ulama besar yang berjasa dalam penyebaran Islam di Aceh pada 1001 Hijriah atau 1591 Masehi. Ia meninggal malam Senin, 23 Syawal 1106H atau 1696M dalam usia 105 tahun.
Semasa hidupnya ulama tersebut menjadi Khadi Malikul Adil pada saat Aceh diperintahkan para sultanah. Sejarah mencatat, Syiah Kuala dulu menjadi semacam Menteri Kehakiman di era pemerintahan sekarang, pada empat sultanah.
Mereka adalah, Safiatuddin Syah memerintah pada 1050-1086 H (1641-1675 M), Nakiatuddin Syah 1086-1088 (1675-1678), Zakiatuddin 1088-1098 (1678-1688) dan Kamalatsyah 1098-1109 (1688-1699).
Nama Syiah Kuala diabadikan menjadi nama perguruan tinggi negeri yakni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Kearifannya juga termaktub dalam pepatah; adat bak po teumeuruhom, hukum bak Syiah Kuala.
Karena keangungan nama Abdurrauf as-Singkily, maka penziarah bisa datang dari mana saja, seperti Turki, Malaysia, Brunei Darussalam, Pakistan, Arab, dan bahkan Polandia. “Orang luar Aceh, seolah belum tenang jika belum datang ke makam ini,” tutup Machmud.
H!NA Magazine
Harga Minyak Pala dan Minyak Nilam
Jualan Kopi Aceh
Jualan Kaos
My Facebook
Waspada Online