News Pantai Barat

Januari 23, 2012

kesal

Filed under: Uncategorized — jaka @ 3:37 pm

Hari ini kutuliskan kesal karena aku sedang kesal.
Sangat kesal.

Januari 2, 2012

Wariskan Pesan Tsunami

Filed under: Uncategorized — jaka @ 4:21 am

Beragam cara dilakukan warga Aceh korban tsunami agar peristiwa tersebut diingat sepanjang masa. peristiwa yang tujuh tahun terakhir terus dirayakan pemerintah Aceh dengan tujuan agar masyarakat Aceh dan masyarakat dunia tidak melupakan peristiwa dahsyat di ujung tahun 2004 itu.

Sekelumit cara dilakukan masyarakat korban agar tetap mengenang peristiwa yang mengejutkan dunia itu, bencana tersebut telah membuat ratusan ribu orang hilang dan meninggal dan merubuhkan rumah, merusak insfrastruktur jalan dan fisilitas kesehatan serta melumpuhkan wilayah pesisir Aceh.

Dikampung lamteh Kecamatan Meuraxa, pesisir Kota Banda Aceh tujuh tahun silam, tepatnya Minggu, 26 Desember 2004, Abdullah Umar (47) masih bercengkrama bersama rekan-rekan sekampung.

Di bawah rimbun rumpun bambu Kuning sekitar pukul 08.30 Wib pria yang akrab di sapa Bang Bolah itu merasakan gempa, dari situ pula dengan sepeda motornya pria keturunan arab persia itu beranjak kerumahnya usai gempa terjadi, Ia mengajak Istri, 3 anak dan seorang keponakannya dan memacu motornya ke arah Gue Gajah, Keutapang Banda Aceh.

“Awalnya saya mendengar tiga ledakan besar, saya kira bom awak nanggroe (Pasukan GAM) meledak lagi, apa lagi saat itu Aceh Masih konflik,” ungkap Bolah.

Dentuman yang besar itulah yang membuatnya kalang kabut, melewati jalan setapak hingga akhirnya tiba di rumah mertuanya di Gue Gajah, “saya tidak melihat air tsunami, tapi saya melihat pohon kelapa sudah bergulung-gulung, saya makin takut,” ungkap Bang Bolah.

Dalam pelarian itu, Istri Bolah sempat berputus asa, “Kiamat sudah terjadi untuk apa lari,” kata Bolah menirukan Istrinya.

lalu Bolah menanggapi pernyataan istrinya dengan menyebut bila gunung belum beterbangan maka kiamat belum terjadi.

Usai mengantarkan Istri, anak dan keponakannya, beberapa jam kemudian Bolah kembali kekampung Lamteh dan mendapati kampungnya telah rata dengan tanah, Rumpun Bambu tempat ia berkumpul tercerabut hingga ke akarnya.

Bolah tak melihat lagi beranda yang di bangun bersama rekan-rekan dan kerabatnya, dilokasi itu hanya ia temukan banyak mayat penuh luka yang tidak Ia kenali, Dari situ pula Bolah terus mencari keluarga dan kerabatnya namun tidak menemukannya.

Sebelum tsunami Kampung Lamteh penuh persawahan, banyak rumah permanen dan semi permanen, sebuah Mesjid dan kehidupan warga saat itu di selimuti rasa takut karena konflik bersenjata GAM dan TNI/Polri.

Bolah bekerja sebagai pembajak sawah milik warga, Ia juga memiliki beberapa bidang kebun sayur dan juga ditanami tanaman muda untuk kebutuhan rumah tangganya.

Saat kampungnya di goyang gempa dan di humbalang tsunami harapan hidupnya sesaat hilang, terlebih Ia banyak kehilangan kerabat dekat dan tetangga.

Meski rasa pahit hidup di dalam barak pengungsian tidak Ia rasakan, namun untuk kembali kekampung lamteh dirasakan sangat berat, kerena kampung itu penuh dengan kenangan walau akhirnya keputusan keluarga untuk kembali harus dia terima dengan berat hati. “saya akhirnya kembali kesini juga,” ungkap Bang Bolah.

Kenangan tsunami pada Minggu, 26 Desember 2004 pukul 08.30 wib itu terus diingatnya, kepada anak laki-lakinya yang paling tua, Bang Bolah selalu berpesan bila gempa terjadi segeralah bawa keluarganya yang lain dengan motor ke Gue Gajah.

“Kalau saya tidak dirumah, saya selalu berpesan kepada anak agar memakai win ini, saya selalu meninggalkan win (motor) bila saya bekerja di luar,” ungkap Bolah sambil menepuk tangki minyak Sepeda motor miliknya itu.

Bak Pusaka, Motor yang dia tunggangi bersama 5 keluarganya itu selalu dirawat agar selalu siaga bila bencana kembali terjadi. “Pesan saya kepada anak-anak membuat mereka selalu siaga bila terjadi sesuatu,” ungkapnya.

Bolah berharap pesan ke anak-anaknya itulah akan terus diwariskan kepada cucu dan keturunannya.

Kisah pahit bencana tsunami juga dirasakan oleh Muhammad Saleh (47) PNS di Balai Besar Jalan Nasional yang bertugas di Meulaboh, Aceh Barat.

“lebih satu tahun sekeluarga kami menumpang di gubuk rumah kawan di Preumbeu,” Kata Saleh.

Di gubuk ukuran 2×2 meter itu pula Saleh bersama Istri dan empat anak, dan keduanya mertuanya melanjutkan hidup.

Rumah Saleh di Suak Ribe habis total, dan keluarga itu harus lari lintang pukang sejauh 3 kilometer agar selamat dari kejaran luapan air laut.

Sementara Ayah mertuanya harus berjuang di perairan Suak Ribe dan dihempas kedaratan bersama perahunya. “mertua saya sedang di laut saat itu, dia selamat juga,” ungkap Saleh.

Bencana itu awal dari rasa pahit yang hingga kini masih dirasakan keluarga Saleh, saat itu hidup berat sekali bukan karena mereka kehilangan rumah atau baju cuma yang melekat di badan, “bukan itu, tapi saat kita tahu bahwa kita tidak menemukan keluarga kita yang hilang, dan rasa itu masih ada hingga sekarang,” kata Saleh.

Kepada anak-anaknya Saleh selalu menceritakan pelarian keluarga itu dan pahitnya tinggal dalam gubuk kecil lebih 13 bulan lamanya, hingga akhirnya memiliki satu rumah bantuan NGO asing yang membangun kembali rumahnya di Suak Ribe. “Walau mereka merasakannya anak-anak harus saya diingatkan agar mereka siap, Orang tua harus selalu mengulang kaji kejadian itu.” sebutnya.

Dengan terus menceritakan tentang peristiwa tsunami Saleh berharap keluarganya terutama anak-anaknya memahami tentang bencana yang terjadi dan akibat yang ditimbulkannya.

Lebih 700 Orang Hadir Kenang Tsunami Di Malaysia

Filed under: Uncategorized — jaka @ 4:19 am

Oleh : Muhammad Zairin

700 warga Aceh di Malaysia berpartisipasi dalam doa bersama mengenang tujuh tahun bencana tsunami, yang dilaksanakan Badan Kebajikan Pendidikan Mahasiswa Aceh (BAKADMA) Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) pada 27 Desember 2011 mendatang.

“Panitia memprediksi lebih 700 masyarakat Aceh akan hadir pada acara itu, karena undangan terbuka telah disebarkan ke pusat-pusat strategis yang banyak masyarakat Aceh bertempat tinggal dan berusaha di Malaysia,” ujar Teuku Muttaqin Mansur kepada Waspada, Sabtu (24/12).

Dalam pernyataannya, Ketua panitia kegiatan yang akan dilaksanakan di Masjid UKM Bangi itu mengatakan kantong-kantong masyarakat Aceh bermukim di Malaysia seperti di Cawkit, Sg Tangkas, Sungai buloh, Kajang dan Kuala Lumpur. “Kita juga tebar undangan ke universitas-universitas,” ungkapnya.

Seperti Universitas Malaysia, Universitas Antara Bangsa, Gombak, UPM, UPSI, Universitas di Melaka. “Malah pada Jumat kemarin panitia Masjid UKM Bangi telah mengumumkan informasi doa ini kepada jamaah shalat Jumat,” tambah Rasyidin, Koordinator Bidang Publikasi dan Dokumentasi acara.

Dikatakannya, undangan juga disebarkan melalui jejaring sosial seperti face book atau tweeter. “Insya Allah target peserta akan melibihi 700 orang dan panitia tidak membatasi warga Aceh yang ingin menghadiri doa bersama itu,” ujar Rasyidin.

Dilaksanakannya doa bersama mengenang tujuh tahun tsunami pada 27 Desember 2011 itu, ungkap Mustaqim, selain waktu libur bersama mahasiswa menjelang ujian akhir kuliah juga bertepatan dengan mangkatnya salah satu Sultan Aceh, yakni Sultan Iskandar Muda.

“Kami dengar di Aceh juga akan dilaksanakan acara mengenang 375 tahun (27 Desember 1636 – 27 Desember 2011) Sultan Iskandar Muda, jadi tidak salahnya apabila doa-doa yang dipanjatkan digabungkan bersama,” cetus mustaqim.

Tujuh Tahun Di Makam Syiah Kuala

Filed under: Uncategorized — jaka @ 4:17 am

Oleh : Munawardi Ismail

SUARA ombak terdengar riuh membentur batu besar di pinggir pantai Desa Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Deburannya masih sama seperti tujuh tahun silam. Berbuih dan basah.

Jumat kemarin, matahari belum tepat di kepala saat seorang penziarah shalat persis di samping makam utama. Dia shalat sunnat melepas kaul. Di depannya terbujur makam yang diyakini milik ulama besar Aceh; Syiah Kuala.

Ulama yang bernama asli Syeikh Aminuddin Abdurrauf bin Ali Al Fanshury As Singkily itu berada di bawah cungkup besar, beratap merah bata. Belasan tiang di dalam juga dicat dengan warna sama.

Namun, bangunan cungkup itu lebih dominan warna kuning. Sedang cat sejumlah bangunan lainnya mulai pudar. Pagar kompleks sudah selesai dibuat. Sebagian belum diberi pewarna. Sejumlah pria dewasa masih sibuk mengaduk semen dan batu bata.

Tiga pekerja lainnya masih mengukur lantai berpavin blok yang belum tuntas dikerjakan. Beberapa batang pohon yang sudah ditanam ikut diberi pagar pembatas. Di tengah hembusan angin laut yang terasa asin, kompleks itu tak sepi penziarah.

Suara ombak jelas terdengar meski sudah dibatasi breakwater (batu pemecah ombak). Ombak itu juga yang 2.555 hari silam dihumbalang gelombang raya; tsunami. Semua bangunan menjadi rata.

Ombak raksasa yang menghempas pantai Aceh itu terjadi 84 bulan silam; 26 Desember 2004. Kendati sudah melewati 61.320 jam, kompleks yang diklaim sebagai kawasan wisata spiritual masih ‘terlantar. Padahal tujuh tahun sudah.

Dikelola Yayasan

Ketua Yayasan Syiah Kuala, Machmud Ika menyebutkan, di areal kompleks seluas 2,6 hektare itu terdapat 42 nisan lain, selain makam Syiah Kuala. Nisan-nisan tersebut tak lain makam para sahabat dan murid Syiah Kuala.

Pasca tsunami, makam Syiah Kuala dipugar menjadi lebih indah oleh Pemerintah Pusat dengan membangun cungkup dengan dana sebesar Rp1,4 miliar. Pihak Pemerintah Aceh melalui Dinas Tata Kota dan Pemukiman, juga telah membagun balai dengan dana Rp1,4 miliar.

Menurut ahli waris makam, ketika Azwar Abubakar menjabat Pelaksana tugas Gubernur Aceh , dia pernah menyatakan bahwa Pemda telah menyediakan dana Rp1,5 miliar untuk merehab makam tersebut dan bangunan lainnya.

Begitu pula dengan Departemen Sosial juga sudah menyediakan dana Rp1,4 miliar untuk membangun cungkop (rumah) Makam Syiah Kuala, dan Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias juga menyediakan dana Rp818 juta untuk membuat pagar.

Namun, faktanya tak seindah dan semegah angka-angka yang berjumlah miliaran itu. “Sekarang yang bangun itu Pemko Banda Aceh. Katanya ada dana Rp500 juta. Tapi pembangunannya tak sesuai harapan pihak yayasan,” ujar Mahmud.

Katanya, sebagai ahli waris dia merasa gerah dengan sikap pemerintah, karena tidak memakai masterplan yang sudah dirancang sendiri pihak yayasan. “Semua jadi kacau balau, mereka membuat denah sendiri tanpa diskusi dengan kita,” ujarnya.

Menurut Mahmud, program rehabilitasi kompleks makam sudah keluar dari kepatutan. “Desainnya tak sesuai lagi. Tapi apa boleh buat,” kata Mahmud yang ikut mengucapkan terima kasih atas bantuan pengusaha Malaysia.

Jejak Syiah

Syiah Kuala merupakan salah seorang ulama besar yang berjasa dalam penyebaran Islam di Aceh pada 1001 Hijriah atau 1591 Masehi. Ia meninggal malam Senin, 23 Syawal 1106H atau 1696M dalam usia 105 tahun.

Semasa hidupnya ulama tersebut menjadi Khadi Malikul Adil pada saat Aceh diperintahkan para sultanah. Sejarah mencatat, Syiah Kuala dulu menjadi semacam Menteri Kehakiman di era pemerintahan sekarang, pada empat sultanah.

Mereka adalah, Safiatuddin Syah memerintah pada 1050-1086 H (1641-1675 M), Nakiatuddin Syah 1086-1088 (1675-1678), Zakiatuddin 1088-1098 (1678-1688) dan Kamalatsyah 1098-1109 (1688-1699).

Nama Syiah Kuala diabadikan menjadi nama perguruan tinggi negeri yakni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Kearifannya juga termaktub dalam pepatah; adat bak po teumeuruhom, hukum bak Syiah Kuala.

Karena keangungan nama Abdurrauf as-Singkily, maka penziarah bisa datang dari mana saja, seperti Turki, Malaysia, Brunei Darussalam, Pakistan, Arab, dan bahkan Polandia. “Orang luar Aceh, seolah belum tenang jika belum datang ke makam ini,” tutup Machmud.

Memori Tujuh Tahun Silam

Filed under: Uncategorized — jaka @ 4:16 am

Munawardi Ismail

TAK terasa tujuh tahun sudah bencana dahsyat tsunami terlewati. Hanya saja, memori tersebut tak akan pernah mati. Sehingga 26 Desember 2004, itu menjadi saat paling menyesakkan bagi Aceh dan Indonesia.

Cuma dalam hitungan setengah jam, gempa besar dan gelombang tsunami menghumbalang wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Bukan cuma bangunan dan infrastruktur yang hancur.

Bencana itu merenggut lebih dari 200.000 jiwa. Puluhan ribu orang kehilangan orang tua, anak, sanak saudara. Ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal yang musnah ditelan air gelombang raya tsunami.

Kala itu, Aceh mendadak menjadi kelam. Bagi mereka yang meninggal, mungkin mengira dunia sudah kiamat. Bagi yang selamat, berharap bagaimana bertahan hidup dan mencari kerabat, di tengah-tengah banyak bangunan hancur dan jasad berserakan di antara isak tangis para korban.

Tsunami tak hanya menjemput ajal ribuan pegawai, melainkan menghancurkan semua bangunan di sepanjang 800 kilometer garis pantai Aceh.

Segala lini tubuh Aceh nyeri. Untuk mengobati luka itu, pemerintah pusat lantas mengerahkan 74 pejabat eselon I-IV Depdagri, 307 pegawai dan 352 mimdya praja ke Aceh untuk memutar kembali roda birokrasi.
Mereka ditugasi di kantor Gubernur, DPRD, kabupaten, kota, kecamatan, dan desa agar masyarakat terlayani.

Kondisi paling parah dialami Kabupaten Aceh Jaya, dengan tingkat kerusakan mencapai 85 %, di susul oleh Kabupaten Aceh Besar (80 %), Banda Aceh (75%), dan Kabupaten Aceh Barat (60%).

Mengurangi Risiko

Di antara kerusakan dan kehancuran tersebut, sekolah dan pelajar adalah salah satu korban yang tidak bisa dielakkan. Sekolah di Aceh Jaya, Banda Aceh dan Aceh Besar tentu lebih parah.

Menurut laporan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), setelah tujuh tahun gempa dan tsunami itu, ternyata masih banyak sekolah yang belum mengetahui pendidikan terkait pengurangan risiko bencana.

Menurut mereka, seharusnya ini menjadi titik tolak bagi pemerintah dan manajemen sekolah yang berada di daerah rawan untuk meningkatkan kapasitas pendidikan kesiapsiagaan dan komitmen sekolah dalam mewujudkan terciptanya sekolah siaga bencana.

Untuk itu, TDMRC bekerjasama dengan LIPI, UNESCO, Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten Kota, PMI dan beberapa lembaga terkait telah merintis sekolah siaga bencana (SSB) di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar.

SSB tersebut berada di Meuraxa dan Peukan Bada yang tak lain titik nol kejadian tsunami 2004 dan memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi. Karena itulah mereka melihat perlunya keberlanjutan dan pengembangan sekolah siaga bencana.

“Kita sudah mengembangkan konsep sekolah siaga bencana di 28 sekolah dengan berbagai tingkatan,” kata Ketua Divisi Advokasi, Edukasi dan Training TDMRC Unsyiah, Drs. Mukhlis Hamid, M.Pd.

Kata dia, lembaganya bersama lembaga terkait mencoba memanfaatkan momentum “Refleksi Tujuh Tahun Gempa dan Tsunami Aceh 2004 sebagai ajang kampanye kesiapsiagaan sekolah.

“Khususnya sekolah yang berada di lokasi yang rentan terhadap bencana untuk melaksanakan upaya pengurangan risiko melalui Festival Sekolah Siaga Bencana,” ungkap dosen FKIP Unsyiah ini.

Menurutnya, Festival Sekolah Siaga Bencana, kegiatan rekreasi edukatif yang dilaksanakan di lapangan terbuka sebagai sarana pendidikan kesiapsiagaan bencana. Kegiatan ini diikuti oleh 600 peserta.

Festival itu dilakukan siswa dengan menitikberatkan pada pengembangan diri peserta yang terdiri atas bidang mental, fisik, intelektual, spiritual dan sosial bertajuk pengurangan risiko bencana.

Halaman Berikutnya »

Theme: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.